Padang Lawas || polhukrim.com
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 23 dari STAIN Mandailing Natal (STAIN MADINA) melaksanakan program edukasi keagamaan di Desa Huristak, Kecamatan Huristak,Kabupaten Padang Lawas.
Kegiatan ini dilaksanakan di bawah kepemimpinan Muhammad Lokot dan Ahmad Fauzi, yang masing-masing sebagai Ketua dan Sekretaris Kelompok KKN 23, bersama jajaran kepengurusan yang terdiri atas Holizah sebagai Bendahara, Wahyu Hidayat dan Lia Mulyani sebagai Humas, Misnawaroh, Rahmi, dan Innas Mutiah sebagai Divisi Publikasi, Dokumentasi, dan Desain (PDD) serta Miftahul Jannah dan Siti Khadijah sebagai Divisi Acara.
Program tersebut dipusatkan di salah satu rumah warga yang sejak tahun 2018 telah menjadi pusat pembelajaran keagamaan bagi anak-anak setiap selesai salat Magrib. Hingga saat ini, pengajian tersebut tetap aktif berjalan dengan jumlah peserta sekitar 70 anak. Seluruh proses pembelajaran diselenggarakan secara cuma-cuma tanpa memungut biaya apa pun dari para peserta, sehingga setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan agama.
Adapun rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh Mahasiswa KKN Kelompok 23 meliputi edukasi thaharah, pembelajaran tata cara salat wajib, pelatihan praktik salat jenazah, serta pembinaan baca tulis Al-Qur'an. Di antara seluruh rangkaian program tersebut, pelatihan salat jenazah menjadi salah satu kegiatan yang paling mendapat perhatian karena dinilai memiliki nilai edukatif sekaligus sosial yang sangat penting. Melalui pelatihan ini, anak-anak dibekali pemahaman mengenai tata cara pelaksanaan fardu kifayah sebagai bekal yang kelak dapat mereka implementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Keberadaan pengajian ini menjadi potret nyata bahwa pendidikan keagamaan tidak selalu bergantung pada fasilitas yang megah ataupun biaya yang besar. Selama lebih dari delapan tahun, kegiatan belajar mengajar terus berlangsung secara istiqamah dengan semangat keikhlasan dari para pengajar dan masyarakat. Hal tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian masyarakat terhadap pendidikan agama masih terpelihara dengan baik.
Ketua Kelompok KKN 23, Muhammad Lokot, menyampaikan bahwa selama pelaksanaan KKN, timnya menemukan fakta menarik mengenai kehidupan sosial masyarakat Desa Huristak. "Berdasarkan pengamatan kami, Desa Huristak bukan hanya dikenal sebagai desa yang masih mempertahankan nilai-nilai adat istiadat yang begitu kuat, tetapi juga sebagai masyarakat yang tetap menjaga nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menambahkan bahwa rumah pengajian yang menjadi lokasi kegiatan saat ini merupakan rumah pengajian pertama yang berhasil diekspos oleh Mahasiswa KKN Kelompok 23. "Insyaallah, ini bukan yang terakhir. Dalam beberapa hari ke depan kami akan melanjutkan kegiatan serupa secara bergiliran di rumah-rumah pengajian lainnya. Harapan kami, apa yang dilakukan para guru mengaji dan masyarakat selama ini dapat lebih dikenal luas serta menjadi inspirasi bahwa pendidikan keagamaan yang dibangun dengan keikhlasan mampu memberikan dampak yang nyata bagi generasi penerus," tambahnya.
Hasil pembinaan yang dilakukan di rumah pengajian tersebut juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Sebagian besar anak-anak telah mengalami peningkatan yang baik dalam kemampuan membaca Al-Qur'an, memahami dasar-dasar fikih ibadah, serta mempraktikkan ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan mampu menghasilkan. (Ahmad Fauzi)
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 23 dari STAIN Mandailing Natal (STAIN MADINA) melaksanakan program edukasi keagamaan di Desa Huristak, Kecamatan Huristak,Kabupaten Padang Lawas.
Kegiatan ini dilaksanakan di bawah kepemimpinan Muhammad Lokot dan Ahmad Fauzi, yang masing-masing sebagai Ketua dan Sekretaris Kelompok KKN 23, bersama jajaran kepengurusan yang terdiri atas Holizah sebagai Bendahara, Wahyu Hidayat dan Lia Mulyani sebagai Humas, Misnawaroh, Rahmi, dan Innas Mutiah sebagai Divisi Publikasi, Dokumentasi, dan Desain (PDD) serta Miftahul Jannah dan Siti Khadijah sebagai Divisi Acara.
Program tersebut dipusatkan di salah satu rumah warga yang sejak tahun 2018 telah menjadi pusat pembelajaran keagamaan bagi anak-anak setiap selesai salat Magrib. Hingga saat ini, pengajian tersebut tetap aktif berjalan dengan jumlah peserta sekitar 70 anak. Seluruh proses pembelajaran diselenggarakan secara cuma-cuma tanpa memungut biaya apa pun dari para peserta, sehingga setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan agama.
Adapun rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh Mahasiswa KKN Kelompok 23 meliputi edukasi thaharah, pembelajaran tata cara salat wajib, pelatihan praktik salat jenazah, serta pembinaan baca tulis Al-Qur'an. Di antara seluruh rangkaian program tersebut, pelatihan salat jenazah menjadi salah satu kegiatan yang paling mendapat perhatian karena dinilai memiliki nilai edukatif sekaligus sosial yang sangat penting. Melalui pelatihan ini, anak-anak dibekali pemahaman mengenai tata cara pelaksanaan fardu kifayah sebagai bekal yang kelak dapat mereka implementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Keberadaan pengajian ini menjadi potret nyata bahwa pendidikan keagamaan tidak selalu bergantung pada fasilitas yang megah ataupun biaya yang besar. Selama lebih dari delapan tahun, kegiatan belajar mengajar terus berlangsung secara istiqamah dengan semangat keikhlasan dari para pengajar dan masyarakat. Hal tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian masyarakat terhadap pendidikan agama masih terpelihara dengan baik.
Ketua Kelompok KKN 23, Muhammad Lokot, menyampaikan bahwa selama pelaksanaan KKN, timnya menemukan fakta menarik mengenai kehidupan sosial masyarakat Desa Huristak. "Berdasarkan pengamatan kami, Desa Huristak bukan hanya dikenal sebagai desa yang masih mempertahankan nilai-nilai adat istiadat yang begitu kuat, tetapi juga sebagai masyarakat yang tetap menjaga nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Hal itu kami lihat dari keberadaan sedikitnya tiga rumah warga yang hingga saat ini aktif menjadi pusat pembelajaran keagamaan bagi anak-anak. Yang lebih membanggakan, semangat belajar para peserta juga sangat luar biasa. Hampir seluruh anak mengikuti setiap materi dengan penuh kesungguhan dan antusiasme. Bagi kami, ini merupakan indikator bahwa pendidikan agama masih menjadi bagian penting dalam membentuk karakter generasi muda di Desa Huristak," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa rumah pengajian yang menjadi lokasi kegiatan saat ini merupakan rumah pengajian pertama yang berhasil diekspos oleh Mahasiswa KKN Kelompok 23. "Insyaallah, ini bukan yang terakhir. Dalam beberapa hari ke depan kami akan melanjutkan kegiatan serupa secara bergiliran di rumah-rumah pengajian lainnya. Harapan kami, apa yang dilakukan para guru mengaji dan masyarakat selama ini dapat lebih dikenal luas serta menjadi inspirasi bahwa pendidikan keagamaan yang dibangun dengan keikhlasan mampu memberikan dampak yang nyata bagi generasi penerus," tambahnya.
Hasil pembinaan yang dilakukan di rumah pengajian tersebut juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Sebagian besar anak-anak telah mengalami peningkatan yang baik dalam kemampuan membaca Al-Qur'an, memahami dasar-dasar fikih ibadah, serta mempraktikkan ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan mampu menghasilkan. (Ahmad Fauzi)




