Mandailing Natal || polhukrim.com
Sedikit kembali mengulang tentang nasib seorang bocah warga Desa Kampung Padang Kecamatan Panyabungan yang mengidap penyakit kulit sejak usia 4 hari sampai saat ini usianya sudah mencapai 9 tahun namun sakit yang ia rasakan pada sekujur tubuh mungil itu tak kunjung sembuh.
Bocah tersebut bernama Mhd.Rayhan Lubis anak dari pasangan suami istri (sabaruddin lbs dan gustina).
Mereka tinggal disebuah rumah kecil dengan kondisi memprihatinkan,itupun masih mengontrak,sementara setiap harinya sabaruddin hanya bekerja sebagai penjual ikan keliling yang berpenghasilan Rp.30.000 sehari sedangkan istrinya gustina hanya buruh sawah yang berpenghasilan tidak menentu.
Karena keadaanlah yang membuat mereka tidak mampu membawa Mhd Rayhan berobat dan hanya mengharafkan uluran tangan dari para dermawan dengan harapan semoga bocah malang itu mendapatkan pengobatan yang layak dari pihak kesehatan. Sabaruddin ayah dari mhd rayhan dengan wajah tertunduk menahan sedih atas nasib dan kondisi yang mereka alami mengatakan bahwa ia selalu berusaha untuk memperjuangkan hidup keluarganya dan akan selalu berjuang untuk kesembuhan anak yang dicintainya meskipun ia sadar bahwa untuk kebutuhan makan setiap harinya pun terkadang susah ia dapatkan.
"Saya selalu berusaha untuk tetap berjuang demi keluarga saya dan juga demi kesembuhan anak saya, tapi sampai saat ini saya belum mampu untuk membawanya berobat karena untuk makan sajapun kami masih susah"jelas sabaruddin dengan nada lesu menahan sedih.
Sesekali mhd rayhan juga menangis seakan-akan ia telah mengerti bahwa perjuangan ayah dan ibunya sangatlah kuat hanya untuk kesembuhan dirinya,ia juga sepertinya memahami kondisi mereka yang hanya hidup pas-pasan sehingga tanpa disengaja ia mengucapkan kalimat sambil menangis sehingga membuat awak media terkejut dan terharu.
"Ngadong epeng nami dbo udak, ima so inda marubat au,ngadong alak na ibo roana jami udak"ucap rayhan sambil menangis terisak-isak.arti dari kalimatnya tersebut "gak ada duit kami udak,makanya aku gak berobat,gak ada orang yang kasihan sama kami udak"ucap rayhan.
Sebelumnya, sekitar tiga bulan yang lewat pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) panyabungan sudah menjemput rayhan ke rumahnya untuk mendapatkan pengobatan atas bantuan dari pemerintah daerah, tapi rayhan hanya dirawat seminggu di RSUD setelah itu pihak rumah sakit mengijinkan rayhan pulang menunggu hasil LAB dari sampel darah rayhan yang di ambil dan dikirim ke RS Medan untuk diperiksa.
Seminggu kemudian hasil LAB keluar dan pihak RSUD menyatakan tidak ditemukan penyakit apa yang bersarang ditubuh rayhan.
Sejak itu rayhan hanya bisa berdiam diri dirumah menahan sakit yang menimpa dirinya sambil berharap masih ada dermawan yang akan membantu biaya pengobatannya untuk berobat ke rumah sakit yang memiliki peralatan lengkap dan berharap masih bisa sembuh agar bisa bermain dan bersekolah.
Menurut Ketua Umum LSM MITRA menilai Dinas sosial P3A kabupaten Mandailing Natal tutup mata dan membiarkan anak terlantar walaupun sudah berkali-kali diberitakan media online namun Dinas sosial tetap tidak perduli, Minta Bupati Mandailing Natal agar segera turun tangan dan evaluasi kinerja dinas sosial kabupaten Madina, karena dinilai kurang koperatif, ungkap Ketum LSM MITRA kepada wartawan.(MJ)
Sedikit kembali mengulang tentang nasib seorang bocah warga Desa Kampung Padang Kecamatan Panyabungan yang mengidap penyakit kulit sejak usia 4 hari sampai saat ini usianya sudah mencapai 9 tahun namun sakit yang ia rasakan pada sekujur tubuh mungil itu tak kunjung sembuh.
Bocah tersebut bernama Mhd.Rayhan Lubis anak dari pasangan suami istri (sabaruddin lbs dan gustina).
Mereka tinggal disebuah rumah kecil dengan kondisi memprihatinkan,itupun masih mengontrak,sementara setiap harinya sabaruddin hanya bekerja sebagai penjual ikan keliling yang berpenghasilan Rp.30.000 sehari sedangkan istrinya gustina hanya buruh sawah yang berpenghasilan tidak menentu.
Karena keadaanlah yang membuat mereka tidak mampu membawa Mhd Rayhan berobat dan hanya mengharafkan uluran tangan dari para dermawan dengan harapan semoga bocah malang itu mendapatkan pengobatan yang layak dari pihak kesehatan. Sabaruddin ayah dari mhd rayhan dengan wajah tertunduk menahan sedih atas nasib dan kondisi yang mereka alami mengatakan bahwa ia selalu berusaha untuk memperjuangkan hidup keluarganya dan akan selalu berjuang untuk kesembuhan anak yang dicintainya meskipun ia sadar bahwa untuk kebutuhan makan setiap harinya pun terkadang susah ia dapatkan.
"Saya selalu berusaha untuk tetap berjuang demi keluarga saya dan juga demi kesembuhan anak saya, tapi sampai saat ini saya belum mampu untuk membawanya berobat karena untuk makan sajapun kami masih susah"jelas sabaruddin dengan nada lesu menahan sedih.
Sesekali mhd rayhan juga menangis seakan-akan ia telah mengerti bahwa perjuangan ayah dan ibunya sangatlah kuat hanya untuk kesembuhan dirinya,ia juga sepertinya memahami kondisi mereka yang hanya hidup pas-pasan sehingga tanpa disengaja ia mengucapkan kalimat sambil menangis sehingga membuat awak media terkejut dan terharu.
"Ngadong epeng nami dbo udak, ima so inda marubat au,ngadong alak na ibo roana jami udak"ucap rayhan sambil menangis terisak-isak.arti dari kalimatnya tersebut "gak ada duit kami udak,makanya aku gak berobat,gak ada orang yang kasihan sama kami udak"ucap rayhan.
Sebelumnya, sekitar tiga bulan yang lewat pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) panyabungan sudah menjemput rayhan ke rumahnya untuk mendapatkan pengobatan atas bantuan dari pemerintah daerah, tapi rayhan hanya dirawat seminggu di RSUD setelah itu pihak rumah sakit mengijinkan rayhan pulang menunggu hasil LAB dari sampel darah rayhan yang di ambil dan dikirim ke RS Medan untuk diperiksa.
Seminggu kemudian hasil LAB keluar dan pihak RSUD menyatakan tidak ditemukan penyakit apa yang bersarang ditubuh rayhan.
Sejak itu rayhan hanya bisa berdiam diri dirumah menahan sakit yang menimpa dirinya sambil berharap masih ada dermawan yang akan membantu biaya pengobatannya untuk berobat ke rumah sakit yang memiliki peralatan lengkap dan berharap masih bisa sembuh agar bisa bermain dan bersekolah.
Menurut Ketua Umum LSM MITRA menilai Dinas sosial P3A kabupaten Mandailing Natal tutup mata dan membiarkan anak terlantar walaupun sudah berkali-kali diberitakan media online namun Dinas sosial tetap tidak perduli, Minta Bupati Mandailing Natal agar segera turun tangan dan evaluasi kinerja dinas sosial kabupaten Madina, karena dinilai kurang koperatif, ungkap Ketum LSM MITRA kepada wartawan.(MJ)




