Padang || polhukrim.com
Puluhan anak muda, seniman, budayawan, hingga akademisi duduak basamo membahas bagaimana "Mengenal Sumatera Barat melalui Budaya" di Fabriek Bloc, Kota Padang pada Jumat 13 Oktober 2023.
Rangkaian Gerakan Kalcer Festival Pusako Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023 tersebut menghadirkan Wiranti Gusman sebagai moderator serta praktisi silek Minangkabau Buya Zuari Abdullah dan sejarawan Maiza Elvira sebagai pemantik diskusi.
Dalam kesempatan tersebut Buya Zuari mengaku cukup terkejut mengetahui keberadaan generasi muda yang masih mau bicara soal budaha.
"Berdasarkan penelitian saya beberapa tahun kemarin, seolah-olah budaya itu terkubur dan mati suri. Tapi ternyata ada aktivasi. Seberapa besar budaya itu akan berpengaruh? Kita perlu melihatnya kembali, apa lagi di tengah zaman modern ini," ungkap praktisi silat yang juga telah menulis sejumlah buku tersebut.
Menurutnya, ada kemungkinan pengaruh globalisasi dunia yang turut menenggelamkan perhatian terhadap nilai-nilai warisan leluhur.
"Apa lagi akhir-akhir ini kita dilanda berbagai krisis dan persoalan. Mulai dari ekonomi, kepercayaan, hingga kesehatan. Sementara di dunia pendidikan kita melahirkan para ahli, sarjana, akademisi, dan sebagainya. Sehingga kita perlu menanyakan kembali, ada apa," lanjutnya.
Secara kehidupan berbangsa dan bernegara, kita seolah telah diberi kebebasan melalui otonomi daerah, UU Desa, bahkan UU Pemajuan Kebudayaan.
"Tapi dalam beberapa tahun ini apakah kita memang benar telah mengenal kebudayaan kita," ungkap Buya, mengajak semua peserta Duduak Basamo untuk berpikir.
Terkait beragamnya bentuk kebudayaan, Buya menegaskan bahwa yang paling penting dalam pembahasan keragaman budaya adalah isi, bukan kemasan.
"Budaya adalah cara hidup yang bijak sesuai kearifan lokal, yang bicara tentang kultur dan kontur. Kalau kita bicara kebudayaan sesuai alam semesta, tentu tidak ada persoalan antara kebudayaan Mentawai, Jawa, dan Minangkabau. Leluhur kita sudah bicara itu. Dima bumi dipjak, disinan langik dijunjuang," paparnya.
Diskusi berlanjut dengan pemaparan dari Maiza Elvira yang menitik beratkan pada persoalan peran perempuan dan laki-laki dalam lingkup kebudayaan Minangkabau.
Ia memulainya dengan cerita sejarah kala tokoh perempuan Roehana Kudus mempertanyakan nihilnya kehadiran perempuan dalam suatu kesempatan musyawarah. Salah satu jurnalis wanita generasi awal di Indonesia tersebut menyampaikan protes melalui tulisan.
Ada juga riwayat wanita Minang, Nyonya Limbak Cahaya yang mengirimkan tulisannya soal peran kaum ibu di Minangkabau ke Koran Belanda. Terbitnya tulisan tersebut menimbulkan pertentangan di kampung halamannya. Namun pada saat ini, Maiza menilai keterlibatan perempuan di berbagai gelanggang di Minangkabau sudah jauh lebih banyak.
"Perempuan sudah seharusnya terlibat dalam pengambilan keputusan di budaya Minangkabau," tegasnya.
Maiza juga menekankan kuatnya nilai gotong royong dalam tradisi Minangkabau, misalnya dalam budaya bareh saganggam dan rangkiang.
Ia juga menegaskan bahwa kebudayaan selalu bisa berubah. Walaupun begitu, nilai-nilai suatu kebudayaan akan selalu menyesuaikan keadaan masyarakatnya, sehingga tetap ada nilai-nilai luhur yang bertahan seiring dengan gerak zaman.
"Saya melihat budaya sebagai kebiasaan dalam lingkup yang lebih luas. Ketika kita bicara soal rangkiang, bukan semata soal bangunan, tapi sistem," ujarnya.
Kendati rangkiang di beberapa tempat hanya terkesan sebagai simbol, namun budaya gotong royong antara suatu nagari atau desa dengan wilayah lainnya bisa muncul dalam beragam bentuk.
Ada pun dalam hal kesenian, terdapat juga percampuran budaya, misalnya dalam Tari Balanse Madam, di kawasan Batang Arau, Kota Padang serta kesenian Rabab Minangkabau di wilayah Pesisir Selatan yang menggunakan instrumen biola.
Diskusi tersebut mendapat sambutan antusias dari berbagai kalangan, terlihat dari munculnya beragam pertanyaan hingga tanggapan. Mulai dari isu UU Sumbar, perbedaan budaya, hingga keterlibatan instansi pemerintahan atas pemajuan kebudayaan secara nyata.
Jurnalis : Hetili Zal.
Puluhan anak muda, seniman, budayawan, hingga akademisi duduak basamo membahas bagaimana "Mengenal Sumatera Barat melalui Budaya" di Fabriek Bloc, Kota Padang pada Jumat 13 Oktober 2023.
Rangkaian Gerakan Kalcer Festival Pusako Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023 tersebut menghadirkan Wiranti Gusman sebagai moderator serta praktisi silek Minangkabau Buya Zuari Abdullah dan sejarawan Maiza Elvira sebagai pemantik diskusi.
Dalam kesempatan tersebut Buya Zuari mengaku cukup terkejut mengetahui keberadaan generasi muda yang masih mau bicara soal budaha.
"Berdasarkan penelitian saya beberapa tahun kemarin, seolah-olah budaya itu terkubur dan mati suri. Tapi ternyata ada aktivasi. Seberapa besar budaya itu akan berpengaruh? Kita perlu melihatnya kembali, apa lagi di tengah zaman modern ini," ungkap praktisi silat yang juga telah menulis sejumlah buku tersebut.
Menurutnya, ada kemungkinan pengaruh globalisasi dunia yang turut menenggelamkan perhatian terhadap nilai-nilai warisan leluhur.
"Apa lagi akhir-akhir ini kita dilanda berbagai krisis dan persoalan. Mulai dari ekonomi, kepercayaan, hingga kesehatan. Sementara di dunia pendidikan kita melahirkan para ahli, sarjana, akademisi, dan sebagainya. Sehingga kita perlu menanyakan kembali, ada apa," lanjutnya.
Secara kehidupan berbangsa dan bernegara, kita seolah telah diberi kebebasan melalui otonomi daerah, UU Desa, bahkan UU Pemajuan Kebudayaan.
"Tapi dalam beberapa tahun ini apakah kita memang benar telah mengenal kebudayaan kita," ungkap Buya, mengajak semua peserta Duduak Basamo untuk berpikir.
Terkait beragamnya bentuk kebudayaan, Buya menegaskan bahwa yang paling penting dalam pembahasan keragaman budaya adalah isi, bukan kemasan.
"Budaya adalah cara hidup yang bijak sesuai kearifan lokal, yang bicara tentang kultur dan kontur. Kalau kita bicara kebudayaan sesuai alam semesta, tentu tidak ada persoalan antara kebudayaan Mentawai, Jawa, dan Minangkabau. Leluhur kita sudah bicara itu. Dima bumi dipjak, disinan langik dijunjuang," paparnya.
Diskusi berlanjut dengan pemaparan dari Maiza Elvira yang menitik beratkan pada persoalan peran perempuan dan laki-laki dalam lingkup kebudayaan Minangkabau.
Ia memulainya dengan cerita sejarah kala tokoh perempuan Roehana Kudus mempertanyakan nihilnya kehadiran perempuan dalam suatu kesempatan musyawarah. Salah satu jurnalis wanita generasi awal di Indonesia tersebut menyampaikan protes melalui tulisan.
Ada juga riwayat wanita Minang, Nyonya Limbak Cahaya yang mengirimkan tulisannya soal peran kaum ibu di Minangkabau ke Koran Belanda. Terbitnya tulisan tersebut menimbulkan pertentangan di kampung halamannya. Namun pada saat ini, Maiza menilai keterlibatan perempuan di berbagai gelanggang di Minangkabau sudah jauh lebih banyak.
"Perempuan sudah seharusnya terlibat dalam pengambilan keputusan di budaya Minangkabau," tegasnya.
Maiza juga menekankan kuatnya nilai gotong royong dalam tradisi Minangkabau, misalnya dalam budaya bareh saganggam dan rangkiang.
Ia juga menegaskan bahwa kebudayaan selalu bisa berubah. Walaupun begitu, nilai-nilai suatu kebudayaan akan selalu menyesuaikan keadaan masyarakatnya, sehingga tetap ada nilai-nilai luhur yang bertahan seiring dengan gerak zaman.
"Saya melihat budaya sebagai kebiasaan dalam lingkup yang lebih luas. Ketika kita bicara soal rangkiang, bukan semata soal bangunan, tapi sistem," ujarnya.
Kendati rangkiang di beberapa tempat hanya terkesan sebagai simbol, namun budaya gotong royong antara suatu nagari atau desa dengan wilayah lainnya bisa muncul dalam beragam bentuk.
Ada pun dalam hal kesenian, terdapat juga percampuran budaya, misalnya dalam Tari Balanse Madam, di kawasan Batang Arau, Kota Padang serta kesenian Rabab Minangkabau di wilayah Pesisir Selatan yang menggunakan instrumen biola.
Diskusi tersebut mendapat sambutan antusias dari berbagai kalangan, terlihat dari munculnya beragam pertanyaan hingga tanggapan. Mulai dari isu UU Sumbar, perbedaan budaya, hingga keterlibatan instansi pemerintahan atas pemajuan kebudayaan secara nyata.
Jurnalis : Hetili Zal.




