Sumbar || polhukrim.com
Premiere Film Tulak Bala di Festival Pusako, Menjawab Pentingnya Budaya Tradisi Masyarakat Pesisir Selatan untuk Diwariskan.
Budaya sebagai hasil olah pikir dan perilaku manusia muncul dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah ritual adat yang menunjukkan suatu penghayatan dan ungkapan terima kasih terhadap alam semesta.
Namun tidak semua ritus tersebut dapat bertahan menghadapi kemajuan zaman. Kesadaran itulah yang menjadi pengantar diskusi "Film Siasat Warisan Budaya" dalam rangkaian Gerakan Kalcer Festival Pusako Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023 di Fabriek Bloc, Kota Padang pada Sabtu 14 Oktober 2023 malam.
Film yang menjadi bahan obrolan berjudul "Tulak Bala" karya sutradara Arif Purnama Putra, mengangkat cerita mengenai ritus Tulak Bala sebagai suatu perwujudan nilai filosofis para nelayan dalam interaksi mereka dengan lautan. Diskusi tersebut mulai setelah para peserta menonton bersama screening film.
"Apa yang ditampilkan dalam film ini bisa jadi sebagian relevan dan sebagian lainnya tidak, tergantung bagaimana kita memahami. Atau tergantung bagaimana masyarakat tradisional memberikan pemahaman kepada generasi-generasi selanjutnya" ungkap Arif kepada moderator Fadhlan Yunanda dan para peserta diskusi.
Ia menegaskan, filmnya bersifat mengulas suatu ritual yang membudaya, ada pun penilaian terhadap pesan-pesan dalam fil dikembalikan kepada penonton atau masyarakat.
Sementara itu pegiat film Dhika Rizky Sandi yang juga menjadi pemantik diskusi menyampaikan, festival yang melibatkan film adalah ajang yang mempertemukan para pegiat dan penikmat film sehingga saling mengenal.
Terkait tema "Film Siasat Warisan Budaya," ia mencontohkan film-film dalam beberapa tahun belakangan banyak yang berlandaskan nilai budaya lokal dan meraup kesuksesan secara kualitas maupun finansial.
Pemantik diskusi selanjutnya, penulis dan jurnalis lepas Fatris MF turut menanggapi pesan dalam film tersebut.
Ia mencontohkan, dalam dekade lalu ada film produksi Hollywood berjudul Waterworld. Filmitu menceritakan di masa bumi sudah hampir tidak punya daratan, justru yang ada hanya perahu yang sangat cepat untuk mencari daratan yang tersisa.
"Setelah kita telusuri, ternyata perahu semacam itu sudah ada sejak sekitar 5000 SM dari orang Nusantara. Kita memiliki akar sejarah dari masyarakat bahari. Ada buktinya. Sampai di Madagaskar ada temuan bangkai-bangkai kapal," ungkap penulis The Banda Journal dan Hikayat Sumatera tersebut.
Ia menambahkan, jika berbicara lebih jauh soal budaya sejak masa lampau pun, masalah kesetaraan bukan hanya soal antara laki-laki dan perempuan. Bahkan antara manusia dan alam dipahami hidup dalam hubungan yang setara. Sehingga ritus-ritus yang berkaitan dengan penghargaan terhadap alam adalah hal yang lazim.
Di satu sisi Fatris juga menegaskan bahwa budaya bukanlah sesuatu yang bisa 'dilestarikan'. "Budaya Minangkabau baru bisa dilestarikan kalau orang Minangkabau dibunuh semua," ujarnya mengumpamakan. Ia menegaskan hal tersebut karena budaya pada dasarnya selalu bergerak seiring manusianya.
Diskusi tersebut mendapat sambutan antusias dari para peserta, terutama yang turut menyampaikan tanggapan dan pertanyaan.
Terkait jalannya diskusi tersebut, kurator Film, Literasi, dan Arsip Festival Pusako Harista Wijaya menyampaikan pihaknya puas menyaksikan lancarnya diskusi serta beragamnya tanggapan para peserta. Terlebih ia menyadari bahwa film adalah salah satu jalan untuk menjaga nilai-nilai warisan budaya.
Jurnalis : M. Zega
Premiere Film Tulak Bala di Festival Pusako, Menjawab Pentingnya Budaya Tradisi Masyarakat Pesisir Selatan untuk Diwariskan.
Budaya sebagai hasil olah pikir dan perilaku manusia muncul dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah ritual adat yang menunjukkan suatu penghayatan dan ungkapan terima kasih terhadap alam semesta.
Namun tidak semua ritus tersebut dapat bertahan menghadapi kemajuan zaman. Kesadaran itulah yang menjadi pengantar diskusi "Film Siasat Warisan Budaya" dalam rangkaian Gerakan Kalcer Festival Pusako Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023 di Fabriek Bloc, Kota Padang pada Sabtu 14 Oktober 2023 malam.
Film yang menjadi bahan obrolan berjudul "Tulak Bala" karya sutradara Arif Purnama Putra, mengangkat cerita mengenai ritus Tulak Bala sebagai suatu perwujudan nilai filosofis para nelayan dalam interaksi mereka dengan lautan. Diskusi tersebut mulai setelah para peserta menonton bersama screening film.
"Apa yang ditampilkan dalam film ini bisa jadi sebagian relevan dan sebagian lainnya tidak, tergantung bagaimana kita memahami. Atau tergantung bagaimana masyarakat tradisional memberikan pemahaman kepada generasi-generasi selanjutnya" ungkap Arif kepada moderator Fadhlan Yunanda dan para peserta diskusi.
Ia menegaskan, filmnya bersifat mengulas suatu ritual yang membudaya, ada pun penilaian terhadap pesan-pesan dalam fil dikembalikan kepada penonton atau masyarakat.
Sementara itu pegiat film Dhika Rizky Sandi yang juga menjadi pemantik diskusi menyampaikan, festival yang melibatkan film adalah ajang yang mempertemukan para pegiat dan penikmat film sehingga saling mengenal.
Terkait tema "Film Siasat Warisan Budaya," ia mencontohkan film-film dalam beberapa tahun belakangan banyak yang berlandaskan nilai budaya lokal dan meraup kesuksesan secara kualitas maupun finansial.
Pemantik diskusi selanjutnya, penulis dan jurnalis lepas Fatris MF turut menanggapi pesan dalam film tersebut.
Ia mencontohkan, dalam dekade lalu ada film produksi Hollywood berjudul Waterworld. Filmitu menceritakan di masa bumi sudah hampir tidak punya daratan, justru yang ada hanya perahu yang sangat cepat untuk mencari daratan yang tersisa.
"Setelah kita telusuri, ternyata perahu semacam itu sudah ada sejak sekitar 5000 SM dari orang Nusantara. Kita memiliki akar sejarah dari masyarakat bahari. Ada buktinya. Sampai di Madagaskar ada temuan bangkai-bangkai kapal," ungkap penulis The Banda Journal dan Hikayat Sumatera tersebut.
Ia menambahkan, jika berbicara lebih jauh soal budaya sejak masa lampau pun, masalah kesetaraan bukan hanya soal antara laki-laki dan perempuan. Bahkan antara manusia dan alam dipahami hidup dalam hubungan yang setara. Sehingga ritus-ritus yang berkaitan dengan penghargaan terhadap alam adalah hal yang lazim.
Di satu sisi Fatris juga menegaskan bahwa budaya bukanlah sesuatu yang bisa 'dilestarikan'. "Budaya Minangkabau baru bisa dilestarikan kalau orang Minangkabau dibunuh semua," ujarnya mengumpamakan. Ia menegaskan hal tersebut karena budaya pada dasarnya selalu bergerak seiring manusianya.
Diskusi tersebut mendapat sambutan antusias dari para peserta, terutama yang turut menyampaikan tanggapan dan pertanyaan.
Terkait jalannya diskusi tersebut, kurator Film, Literasi, dan Arsip Festival Pusako Harista Wijaya menyampaikan pihaknya puas menyaksikan lancarnya diskusi serta beragamnya tanggapan para peserta. Terlebih ia menyadari bahwa film adalah salah satu jalan untuk menjaga nilai-nilai warisan budaya.
Jurnalis : M. Zega




