Mandailing Natal || polhukrim.com
Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 4 Mandailing Natal (Madina) membuktikan bahwa perpisahan sekolah tak sekadar seremoni formal. Dalam gelaran pelepasan siswa kelas IX Tahun Ajaran 2025/2026, Kamis (30/04/2026), madrasah ini menyulap halaman sekolah menjadi panggung budaya yang megah dan emosional.
Identitas Budaya di Tengah Perubahan Sorotan utama jatuh pada Tarian Persembahan dan Tari Kreasi Adat Mandailing yang dibawakan dengan presisi oleh para siswi. Mengenakan busana adat yang merepresentasikan martabat lokal, para penari berhasil menghidupkan atmosfer "Bumi Gordang Sambilan" di hadapan ratusan pasang mata.
Kepala MTsN 4 Mandailing Natal, Maraluddin, S.Ag., M.Pd., menegaskan bahwa penonjolan seni tradisional ini adalah langkah strategis madrasah dalam membentengi identitas siswa di era globalisasi. "Penampilan tarian adat ini bukan sekadar pemanis acara. Ini adalah pesan kuat kepada para alumni: ke mana pun kalian melangkah, jangan pernah tanggalkan akar budaya Mandailing. Kami melepas kalian untuk menjadi generasi intelek yang tetap beradab dan berkarakter," tegas Maraluddin dalam pidatonya yang menggugah.
Keteguhan suasana budaya seketika mencair menjadi keharuan mendalam saat prosesi sungkeman berlangsung. Isak tangis pecah ketika para siswa bersimpuh di hadapan orang tua dan guru, simbolisasi pengembalian amanah pendidikan yang telah dijalani selama tiga tahun terakhir.Tak hanya soal seremoni, acara ini juga menjadi panggung pembuktian bakat siswa melalui: Literasi & Seni: Pembacaan puisi yang menyentuh dan harmoni paduan suara.
Apresiasi Akademik: Pengumuman siswa-siswi berprestasi sebagai bentuk motivasi sebelum mereka menapakkan kaki di jenjang SMA/MA/SMK. Sinergi Kelembagaan: Kehadiran Ketua Komite, Asrin Hasibuan, mempertegas soliditas antara sekolah dan masyarakat dalam mengawal masa depan anak didik.
Ketua Komite, Asrin Hasibuan, menyatakan apresiasinya terhadap dedikasi para guru. "Kami melihat pertumbuhan karakter yang luar biasa pada anak-anak kami di sini. Perpisahan ini hanyalah awal dari perjuangan yang lebih besar" ujarnya.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan ramah tamah yang hangat. Pelepasan kelas IX kali ini bukan hanya tentang berakhirnya masa studi, melainkan tentang bagaimana MTsN 4 Mandailing Natal berhasil melepas duta-duta muda yang siap berkiprah dengan bekal iman,ilmu, dan budaya.(IS)
Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 4 Mandailing Natal (Madina) membuktikan bahwa perpisahan sekolah tak sekadar seremoni formal. Dalam gelaran pelepasan siswa kelas IX Tahun Ajaran 2025/2026, Kamis (30/04/2026), madrasah ini menyulap halaman sekolah menjadi panggung budaya yang megah dan emosional.
Identitas Budaya di Tengah Perubahan Sorotan utama jatuh pada Tarian Persembahan dan Tari Kreasi Adat Mandailing yang dibawakan dengan presisi oleh para siswi. Mengenakan busana adat yang merepresentasikan martabat lokal, para penari berhasil menghidupkan atmosfer "Bumi Gordang Sambilan" di hadapan ratusan pasang mata.
Kepala MTsN 4 Mandailing Natal, Maraluddin, S.Ag., M.Pd., menegaskan bahwa penonjolan seni tradisional ini adalah langkah strategis madrasah dalam membentengi identitas siswa di era globalisasi. "Penampilan tarian adat ini bukan sekadar pemanis acara. Ini adalah pesan kuat kepada para alumni: ke mana pun kalian melangkah, jangan pernah tanggalkan akar budaya Mandailing. Kami melepas kalian untuk menjadi generasi intelek yang tetap beradab dan berkarakter," tegas Maraluddin dalam pidatonya yang menggugah.
Keteguhan suasana budaya seketika mencair menjadi keharuan mendalam saat prosesi sungkeman berlangsung. Isak tangis pecah ketika para siswa bersimpuh di hadapan orang tua dan guru, simbolisasi pengembalian amanah pendidikan yang telah dijalani selama tiga tahun terakhir.Tak hanya soal seremoni, acara ini juga menjadi panggung pembuktian bakat siswa melalui: Literasi & Seni: Pembacaan puisi yang menyentuh dan harmoni paduan suara.
Apresiasi Akademik: Pengumuman siswa-siswi berprestasi sebagai bentuk motivasi sebelum mereka menapakkan kaki di jenjang SMA/MA/SMK. Sinergi Kelembagaan: Kehadiran Ketua Komite, Asrin Hasibuan, mempertegas soliditas antara sekolah dan masyarakat dalam mengawal masa depan anak didik.
Ketua Komite, Asrin Hasibuan, menyatakan apresiasinya terhadap dedikasi para guru. "Kami melihat pertumbuhan karakter yang luar biasa pada anak-anak kami di sini. Perpisahan ini hanyalah awal dari perjuangan yang lebih besar" ujarnya.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan ramah tamah yang hangat. Pelepasan kelas IX kali ini bukan hanya tentang berakhirnya masa studi, melainkan tentang bagaimana MTsN 4 Mandailing Natal berhasil melepas duta-duta muda yang siap berkiprah dengan bekal iman,ilmu, dan budaya.(IS)




